PEMANFAATAN KOMODITI KEHUTANAN UNTUK PRODUK KREATIF
Makalah Praktikum Ekonomi Sumber Daya Hutan Medan, April 2021
PEMANFAATAN
KOMODITI KEHUTANAN UNTUK PRODUK KREATIF
Dosen Penanggung Jawab:
Dr. Agus Purwoko, S.Hut., M.Si
Disusun Oleh :
Angelina Dame Ria Munte 191201043
Philip Jordan Simanjuntak 191201048
Adinda Rahmayani 191201056
Ratna Fadilah 191201058
Taruly Oktavyani Patricya 191201112
Daniel
Sihombing 191201115
Grace
Rama Novelyta Br Sembiring 191201120
Kelompok 3
HUT 4C
PROGRAM STUDI KEHUTANAN
FAKULTAS KEHUTANAN
UNIVERSITAS SUMATERAA
UTARA
MEDAN
2021
KATA PENGANTAR
Puji dan syukur penulis ucapkan kehadirat Tuhan Yang Maha
Esa, yang telah memberikan rahmat dan karunia-Nya sehingga penulis dapat
menyelesaikan penulisan laporan praktikum Ekonomi Sumber Daya Hutan yang berjudul
“Pemanfaatan Komoditi
Kehutanan Untuk Produk Kreatif” ini dengan baik dan tepat waktu. Laporan praktikum pemanenan hasil hutan
ini disusun untuk memenuhi salah satu tugas praktikum Ekonomi Sumber Daya Hasil Hutan dan sebagai salah satu syarat
masuk praktikum, Program Studi Kehutanan, Fakultas Kehutanan, Universitas
Sumatera Utara.
Dalam penyelesaian laporan praktikum ini, penulis mendapatkan bantuan dari berbagai pihak. Oleh
sebab itu penulis mengucapkan terimakasih
yang banyak kepada Dr. Agus Purwoko, S.Hut., M.Si selaku dosen pembimbing mata kuliah Ekonomi Sumber Daya Hutan, yang telah mengajarkan materi
praktikum dengan baik begitu juga dengan asisten praktikum ekonomi sumber daya hutan yang telah membantu penulis
dalam melaksanakan praktikum yang hasilnya kemudian dituangkan dalam laporan
ini.
Penulis sadar,
penulisan
laporan ini masih jauh dari kata sempurna, baik dari segi teknik maupun materi.
Oleh sebab itu, penulis sangat mengaharapkan kritik dan saran dari para pembaca
demi penyempurnaan laporan praktikum pemanenan hasil hutan ini. Akhir kata,
semoga laporan praktikum pemanenan hasil
hutan ini bermanfaat bagi kita semua.
Medan, April 2021
Penulis
DAFTAR ISI
Halaman
KATA
PENGANTAR........................................................................................ i
DAFTAR
ISI ....................................................................................................... ii
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang..................................................................................... 1
1.2 Rumusan Masalah................................................................................ 2
1.3 Tujuan Penulisan.................................................................................. 2
PEMBAHASAN
2.1 Pengertian Komoditi Kehutanan......................................................... 3
2.2 Perkembangan
Produk Kreatif dari Komoditi Kehutanan.................. 3
2.3 Faktor
Keberhasilan Produk Kreatif dari Komoditi Kehutanan......... 5
2.4 Bentuk – Bentuk
Produk Kreatif Komoditi Kehutanan..................... 6
2.5 Manfaat Dari
Komoditi Kehutanan Bagi Masyarakat........................ 9
PENUTUP
3.1 Kesimpulan......................................................................................... 10
3.2 Saran................................................................................................... 10
DAFTAR PUSTAKA......................................................................................... 11
|
|
BAB I
PENDAHULUAN
Hutan adalah
suatu kesatuan ekosistem berupa hamparan lahan berisisumber daya alam hayati
yang didominasi pepohonan dalam persekutuan alam lingkungannya, yang satu
dengan lainnya tidak dapat dipisahkan. Sumber daya alam hasil hutan bukan kayu
merupakan seluruh produk biologi yang dapat diperoleh dan dipanen dari kawasan
hutan yang mencakup seluruh produk biologi dari hutan meliputi produk dari
berbagai tumbuhan (nabati/flora), baik yang berupa tumbuhan tingkat tinggi
maupun tumbuhan tingkat rendah, dan berbagai jenis hewan (hewani/ fauna), baik
hewan yang bertipe prokariota maupun hewan yang bersel sempurna jenis
eukariota. Sumber daya alam hasil hutan non kayu memiliki peranan yang sangat
penting bagi kebutuhan manusia (Wahyudi, 2013).
Ketergantungan
masyarakat terhadap sumber daya alam hasil hutan untuk berbagai kebutuhan
seperti kebutuhan obat, buah-buhan, dan sayuran memiliki implikasi yang tinggi
bagi pengelolaan hutan jangka panjang sehingga pengelolaan hasil hutan yang
berkelanjutan dianggap sebagai strategi yang tepat untuk konservasi hutan
didaerah-daerah yang memiliki keanekaragaman hayati yang tinggi. Keberadaan
beberapa produksi jenis komoditas hasil hutan memiliki peranan yang sangat
penting bagi masyarakat yang berada disekitar kawasan hutan. Peranan yang
paling mendasar ialah untuk mencukupi kebutuhan hidup mereka seperti kebutuhan
untuk keperluan pendidikan, kebutuhan sehari-hari, keperluan untuk akses
kesehatan dan bahkan sebagai satu-satunya sumber mata pencaharian masyarakat
sekitar hutan. Oleh
karena itu, hutan perlu dikelola dengan baik sehingga dapat terjamin
kelestariannya. Data biofisik yang dimaksud antara lain luasan hutan,
ketinggian dari permukaan air laut, jenis tanah, kondisi geologi, hidrologi
curah hujan, topografi dan bentang alam lainnya (Nizar,
2016).
Ekonomi
kreatif adalah kegiatan ekonomi yang memiliki bagian utama yaitu ide,
gagasan sebagai kesa tuan kreativitas
yang memberikan nilai tambah. Dalam ekonomi kreatif, Peranan individu yang
memiliki kreatifitas jauh lebih penting dibandingkan dengan yang bekerja dengan
menggunakan alat. Sektor ekonomi kreatif tidak dapat diabaikan. Menurut data
hasil survei ekonomi kreatif, Indonesia memiliki kontribusi PDB ekonomi
kreatif terbesar yaitu pada subsektor kuliner, fashion dan kriya. Besarnya
peranan berbagai sektor ekonomi dalam memberikan nilai tambah tiap komoditas
akan menentukan struktur ekonomi pada sebuah daerah. Struktur ekonomi tersebut
kemudian terbentuk sebagai penggambaran dari besar pengaruh suatu sektor
ekonomi atau bidang usaha pada suatu daerah (Andriana, 2011).
Terdapat beberapa hambatan yang dihadapi dalam pengelolaan dan pengembangan HHBK yaitu pengelolaan masih konvensional, pemanfaatan hanya diprioritaskan pada hasil hutan tertentu saja. Komoditas hasil hutan bukan kayu yang dapat ditentukan nilainya (Tangible products), seperti sagu (Metroxylon sago), buah merah (Pandanus spp), dan komoditas hasil hutan bukan kayu yang tidak dapat ditentukan nilainya (Intangible product) atau kelompok jasa (forest services). Komoditas hasil hutan bukan kayu yang dapat dihitung nilainya (Tangible Produck)yang bersumber dari tumbuhan berupa sayur-sayuran, buah-buahan, dan zat pati lainnya tumbuhan atau pepohonan (Dirawan et al., 2018).
1.1 Rumusan Masalah
1. Apa itu komoditi kehutanan?
2. Apa saja perkembangan produk
kreatif dari komoditi kehutanan di Indonesia?
3. Apa saja faktor pendukung keberhasilan industri produk kreatif dari komoditi kehutanan?
4. Apa saja contoh produk kreatif dari komoditi kehutanan?
5. Apa saja manfaat dari komoditi kehutanan bagi masyarakat?
1.2 Tujuan
1. Untuk mengetahui pengertian komoditi kehutanan.
2. Untuk mengetahui perkembangan
produk kreatif dari komoditi kehutanan di Indonesia.
3. Untuk mengetahui faktor pendukung keberhasilan industri produk kreatif dari komoditi kehutanan.
4. Untuk mengetahui contoh produk kreatif dari komoditi kehutanan.
5. Untuk mengetahui manfaat dari komoditi kehutanan
bagi masyarakat.
BAB II
PEMBAHASAN
2.1.
Pengertian Komoditi Kehutanan
Secara
kosa kata komoditi kehutanan diterjemahkan sebagai seluruh hasil (produk-produk)
yang dihasilkan dari Hutan. Sedangkan hutan secara sederhana dapat diartikan
sebagai sekumpulan pohon-pohon, tumbuhan dan hewan serta penyusun ekosistem
lainnya yang satu sama lain tidak terpisahkan dan ditetapkan oleh undang-undang
sebagai hutan. Sehingga, hasil hutan adalah seluruh produk-produk yang
dihasilkan dari hutan, meliputi produk-produk dari pohon, tumbuhan, hewan dan
organisme penyusun ekosistem hutan lainnya. Hasil hutan yang telah disebutkan
tadi, adalah hasil hutan yang dapat ditentukan atau dihitung nilainya,
bagaimana dengan produk-produk yang tidak dapat dihitung nilainya, seperti
hutan berfungsi menghasilkan udara yang bersih dan segar, hutan mampu menampung
resapan air hujan dan selanjutnya mengeluarkan air ke sungai atau mata air, pancuran,
juga fungsi lainnya seperti rekreasi, pariwisata, tempat penelitian,
perlindungan satwa, dan sebagainya.
Setelah kita
cermati, ternyata hasil hutan itu memiliki pengertian dan dimensi yang sangat
luas, dan menyeluruh. Belajar dan mempelajari hasil hutan, juga perlu
melibatkan berbagai disiplin ilmu, tidak hanya ilmu-ilmu dasar, seperti
biologi, fisika, kimia, dan matematika. Akan tetapi, peran ilmuilmu terapan
seperti kehutanan, hidrologi, klimatologi, pertanian, sosiologi, peternakan,
perikanan, dan yang lainnya, juga tidak kalah pentingnya.
Hutan tropis Indonesia menghasilkan produk berbagai
jenis kayu, sehingga kayu sering disebut sebagai hasil hutan utama. Sedangkan
produk hutan lainnya seperti rotan, kayu lawang, gaharu dan tanaman obat serta
beberapa produk hutan lainnya disebut dengan hasil hutan bukan kayu.
2.2.
Perkembangan Produk Kreatif Dari Komoditi Kehutanan di Indonesia
Pada
umumnya, masyarakat telah mampu mengambil hasil kayu hutan Indonesia dan
menciptakan banyak jenis pekerjaan. Produk mebel dari hasil kayu gelondongan
sudah sejak lama diproduksi di negeri ini. Akan tetapi, tak hanya itu, saat ini
mulai muncul berbagai produk lain baik dari kayu baru maupun bekas yang mampu
dikomersilkan dan bersaing di pasar dunia. Gaya masyarakat yang memasuki
industri kreatif, industri yang mengandalkan ketrampilan, talenta dan
kreativitas yang berpontensi dalam meningkatkan kesejahteraan, bersamaan dengan
daya kreativitas masyarakat yang patut diacungi jempol memberikan keleluasaan
lebih untuk menghasilkan produk lain dari hutan Indonesia. Industri kreatif
yang terus bermunculan di kalangan masyarakat membuat pola ekonomi masyarakat
juga ikut berubah. Kini banyak hal yang mampu didapatkan dari hutan Indonesia.
Tak lagi hanya mengandalkan ton-ton kayu glondongan. Guguran dedaunan kering
pun bisa diolah dan menghasilkan pundi-pundi rupiah.
Usaha yang
bergerak dalam bidang kerajinan tangan ini mampu menghasilkan produk-produk
yang berbahan dasar limbah hingga kayu ukir yang bernilai tinggi. Pensil, topeng,
kalung, gelang, miniatur, dan barang lain dapat diproduksi dan dipasarkan
hingga ke mancanegara. Galeri ini membuktikan bahwa hasil hutan bukan hanya
kayu besar yang dapat dioleh menjadi barang mewah dengan harga selangit. Akan
tetapi, sisa dan bagian kecil dari hutan itu sendiri mampu menghasilkan barang
sederhana yang tak kalah kualitasnya. Akhir-akhir ini juga banyak ditemukan
tempat ekowisata yang memanfaatkan keasrian dan keindahan hutan untuk dinikmati
langsung oleh para pelancong, baik domestik maupun asing. Ekowisata mengalami
perkembangan dari waktu ke waktu. Namun pada hakikatnya ekowisata dapat
diartikan sebagai bentuk wisata yang bertanggung jawab terhadap kelestarian
area yang masih alami (natural area), memberi manfaat secara ekonomi dan mempertahankan
keutuhan budaya bagi masyarakat.
Hasil hutan yang
jelas mampu diambil keuntungannya dapat memberikan keuntungan lain yang
menjanjikan. Masyarakat dapat diajak untuk kembali ke alam bebas, memberikan
edukasi akan pentingnya hutan, dan juga membantu untuk mengampanyekan
pelestarian hutan Indonesia. Dengan adanya ekowisata ini, masyarakat sekitar
dapat menciptakan lapangan pekerjaan baru yang mampu meningkatkan taraf hidup
mereka secara langsung. Dengan demikian, tingkat pengangguran dapat ditekan dan
jumlah PDB negara mampu ditingkatkan. Meskipun demikian, tak bisa dielekkan
bahwa jumlah hutan Indonesia tak lagi sebesar dahulu. Sayangnya persentase
luasan hutan semakin menurun dari tahun ke tahun. Hal ini patut mencuri
keprihatinan masyarakat. Selain hasil hutan yang akan berkurang secara
spesifik, menurunnya kawasan hutan juga menjadikan kesehatan bumi ikut menurun.
Oleh karena itu, sebagai masyatakat yang cerdas, kepedulian terhadap
kelestarian hutan harus terus digaungkan dan dilaksanakan secara nyata. Hutan
akan mampu menjadi teman apabila masyarakat juga memperlakukannya layaknya
seorang teman. Sehingga keseimbangan lingkaran kehidupan akan terus berhubungan
secara simbiosis mutualisme yang tak akan merugikan pihak manapun.
2.3. Faktor Pendukung Keberhasilan Industri
Produk Kreatif Dari Komoditi Kehutanan
Pengembangan
ekonomi kreatif pada hakekatnya merupakan tanggungjawab bersama antara
pemerintah dan masyarakat, untuk itu kedepannya perlu diupayakan hal-hal
sebagai berikut :
1. Penciptaan Iklim Usaha yang Kondusif.
Pemerintah perlu mengupayakan terciptanya iklim yang kondusif antara lain
dengan mengusahakan ketenteraman dan keamanan berusaha serta penyederhanaan
prosedur perijinan usaha, keringanan pajak dan sebagainya.
2. Bantuan Permodalan.Pemerintah perlu
memperluas skimkredit khusus dengan syarat-syarat yang tidak memberatkan bagi
UKM, untukmembantu peningkatan permodalannya,baik itu melalui sektor jasa
finansial formal, sektor jasa finansial informal, skemapenjaminan, leasing dan
dana modal ventura.
3. Perlindungan Usaha.Jenis-jenis usaha
tertentu, terutama jenis usaha tradisional yang merupakan usaha golongan
ekonomi lemah, harus mendapatkan perlindungan dari pemerintah, baik itu melalui
undang-undang maupun peraturan pemerintahyang bermuara kepada saling
menguntungkan (win-win solution).
4. Pengembangan Kemitraan.Perlu
dikembangkan kemitraan yang saling membantu antara UKM, atau antara UKM dengan
pengusaha besar yang ada di dalam maupun di luar negeri. Juga untukmemperluas
pangsa pasar dan pengelolaan bisnis yang lebih efisien. Dengan demikian UKM
akan mempunyai kekuatan dalam bersaing dengan pelaku bisnis lainnya, baik dari
dalam maupun luar negeri.
5. Pelatihan.Pemerintah perlu
meningkatkan pelatihan bagi UKM khususnya pelatihan pembuatan kerajinan
anyaman, juga pada aspek kewiraswastaan, manajemen, administrasi dan
pengetahuan serta keterampilan dalam pengembangan usahanya. Disamping itu juga
perlu diberi kesempatan untuk menerapkan hasil pelatihan di lapangan untuk
mempraktekkan teori melalui pengembangan kemitraan rintisan.Ekonomi kreatif
sangat tergantung kepada modal manusia (humancapital atau intellectual capital,
ada juga yang menyebutnya creative capital). Ekonomi kreatif membutuhkan
sumberdaya manusia yang kreatif tentunya, mampu melahirkan berbagai ide dan
menterjemahkannya ke dalam bentuk barang dan jasa yang bernilai ekonomi.
6. Membentuk Lembaga Khusus. Perlu
dibangun suatu lembaga yang khusus bertanggung jawab dalam mengkoordinasikan
semua kegiatan yang berkaitan dengan upaya penumbuh kembangan UKM dan juga
berfungsi untuk mencari solusi dalam rangka mengatasi permasalahan baik
internal eksternal yang dihadapi oleh UKM.
7. Memantapkan Asosiasi.Asosiasi yang
telah ada perlu diperkuat, untuk meningkatkan perannya antara lain dalam
pengembangan jaringan informasi usaha yang sangat dibutuhkan untuk pengembangan
usaha bagi anggotanya.
8. Mengembangkan Promosi. Kegiatan
promosi sangat bermanfaat bagi keberlangsungan hidup industri kerajinan
tradisional Jambi ini. Kegiatan ini mampumempercepat proses kemitraan antara
UMKM dengan pengusaha besar dalam upaya mempromosikan produk-produk yang
dihasilkan.
2.4.
Bentuk – Bentuk Produk Kreatif Komoditi Kehutanan
A. Asbak dari Kayu
Kerajinan tangan
yang satu ini pastinya dibutuhkan bagi perokok aktif yang berada di lingkungan
sekitar Anda. Asbak berbahan dasar kayu ini memiliki jangka waktu kegunaan yang
sangat panjang karena dapat dirawat dalam jangka waktu yang lama. Kerajinan
tangan berupa asbak ini dapat dibuat sendiri menggunakan bahan yaitu pernis,
bambu bekas dan kayu bekas. Sedangkan alatnya adalah lem kayu, gergaji, pisau,
dan gunting. Pastikan Anda mempersiapkan bahan dan alat tersebut sebelum
melakukan pembuatan kerajinan.
Cara pembuatan
asbak dari kayu adalah sebagai berikut : Buatlah kerangka dengan membelah papan
dengan lebar 2,5 cm dan panjang 12 cm. kemudian potong ujung papannya dengan
bentuk miring dan buat 8 buah potongan sehingga membentuk 2 kotak. Kemudian
tempel masing-masing bagian menggunakan lem kayu. Ini akan menjadi bagian
kerangka asbak. Kemudian potong bambu secara tipis dengan panjang sekitar 7 cm.
Tempelkan potongan bambu di sekeliling kerangka dalam kayu menggunakan lem kayu
pada bagian atas dan bagian bawah. Setelah semua bagian asbak telah terpasang,
lumuri bagian asbak dengan lem kemudian amplas hingga halus. Lumuri pernis pada
semua bagian asbak agar tampak lebih mengkilap. Potong bagian lis bambu yang
telah dipotong lalu tempelkan pada sekeliling asbak sebagai tempat rokok.
B. Tikar dari rotan
Tikar Lampit Rotan
Kalimantan adalah salah satu barang kerajinan tikar buatan tangan khas
Kalimantan Selatan. Jika karpet identik dengan karakternya yang hangat, lampit
justru menawarkan permukaan yang dingin karena dapat menyerap udara dingin.
Maka dari itu alas penutup lantai yang satu ini memang pas digunakan di daerah
beriklim tropis seperti Indonesia. Lampit yang bernuansa etnik tradisional
umumnya dugunakan untuk pelengkap dekorasi rumah, restoran, resort dan hotel.
Bentuk lampit yang sederhana memberi kesan hangat dan cantik untuk menghiasi
ruangan dengan perpaduan furniture rotan lainnya.
C. Kursi dari bambu
Mungkin di rumah
kamu juga terdapat beberapa furniture yang terbuat dari bahan bambu, seperti
kursi, meja, atau bahkan lemari. Memang deh ya, pesona tanaman bambu tidak
pernah habis dimakan zaman.Meski zaman sudah semakin maju, namun minat
masyarakat terhadap perabotan rumah dari bambu tidak ada habisnya. Buktinya,
hingga kini kerajinan tangan furnitur dari bambu masih banyak dicari oleh
masyarakat. Banyak pengusaha mebel di Indonesia yang juga melayani pemesanan
furniture dari bambu ini.
D. Angklung dari bambu
Angklung adalah
alat musik yang terbuat dari pipa-pipa bambu, yang dipotong ujung-ujungnya,
menyerupai pipa-pipa dalam suatu organ, dan diikat bersama dalam suatu bingkai,
digetarkan untuk menghasilkan bunyi. Secara umum, berbagai jenis kerajinan
tangan dari bambu di atas dapat dibuat oleh siapapun menggunakan alat tertentu.
Ada yang bisa dibuat dengan menggunakan alat biasa seperti gergaji, martil, dan
sebagainya. Namun untuk kemudahan pengolahan bambu, anda dapat menggunakan
berbagai mesin pengolah bambu, antara lain, mesin pemotong bambu, mesin
pembelah bambu dan mesin irat bambu.
E. Tatakan gelas dari kayu pinus
Tatakan gelas
dari kayu kini, sedang menjadi tren, terutama bagi para pecinta tema rustik dan
vintage. Tatakan gelas dari kayu ini, biasanya terbuat dari potongan kayu
pinus, tanpa merubah bentuknya, serta hanya melakukan finishing saja hingga
pengecatan lapisan bening. Karena bentuknya yang estetik, tatakan gelas dari
kayu ini, sering digunakan kafe, restoran, hingga rumahan. Harganya pun sangat
terjangkau, yakni mulai Rp6000 per buah sehingga dapat meningkatkan
perekonomian dan taraf kehidupan masyarakat.
F. Lampu Hias dari Kayu
Lampu hias dari kayu
ini juga bisa dibuat sendiri dirumah lho, alat yang diperlukan adalah gergaji,
lem, bor, paku, cat, amplas, cutter, dan palu. Bahan yang dibutuhkan untuk
pembuatan lampu hias ini adalah kayu, triplek, lampu, dan tempat lampu.
Cara
pembuatannya adalah sebagai berikut : Buat kerangka lampu dengan menyiapkan 4
buah potongan triplek ukuran 30×13 cm kemudian siapkan lis kerangka lampu
dengan memotong 8 buah triplek dengan ukuran 14×3 cm. Kemudian buat fitting
lampu dengan memotong 4 triplek ukuran 12×3 cm kemudian potong satu triplek
lagi dengan ukuran 12×12 cm untuk tatakan lampu. Kemudian lubangi semua triplek
kerangka lampu dan rapatkan semua bagian tersebut menggunakan lem. Setelah itu
paku setiap bagiannya agar lebih kuat. Amplas kotoran yang terdapat pada kayu
hingga hilang dan tampak lebih halus. Kemudian cat triplek sesuai dengan
keinginan atau sesuai dengan tema kamar Anda Tahap terakhir adalah pasang lampu
dan tempatnya sehingga bisa langsung digunakan.
G. Vas dari Kayu
Kayu memang
dapat dijadikan berbagai macam kerajinan, salah satunya sebagai vas. Vas yang
terbuat dari kayu memang beragam dan hingga saat ini memiliki berbagai bentuk
vas yang unik dan lucu.
Vas dari kayu
ini dapat dijadikan sebagai wadah bunga dan dijadikan sebagai alat penghias ruangan.
Dengan biaya perawatan yang murah, vas dari kayu ini sangat efisien untuk
dipajang dirumah.
2.5.
Bagaimana Manfaat Dari Komoditi Kehutanan Bagi Masyarakat
Hutan
sebagai sumberdaya alam yang terbarukan, memiliki berbagai manfaat penting bagi
keberlangsungan hidup mahluk hidup. Pengelolaan hutan yang baik harus dapat
memberikan manfaat yang optimal bagi masyarakat, pengelola hutan dan
stakeholders serta lingkungan sekitarnya. Tidak hanya itu, pengelolaan hutan
yang baik juga harus memperhatikan aspek-aspek kelestarian
hutan, seperti: aspek ekologi,
produksi, serta sosial ekonomi dan budaya masyarakat sekitar hutan. Selain dari
itu manfaat komoditi kehutanan bagi masyrakat adalah meningkatkan kemampuan
masyarakat dalam mengelola hutan dan juga dapat meningkatkan taraf dan
perekonomian masyarakat dan juga dapat membantu menggerakkan perekonomian
masyarakat ataupun negara dalam suatu wilayah.
Sumberdaya hutan
sangat penting artinya dalam mendorong tersedianya lapangan kerja, karena
sektor kehutanan memiliki banyak lapangan usaha antara lain kegiatan penanaman,
pemeliharaan dan perlindungan hutan, kegiatan pemanenan hasil hutan (penebangan
dan pengangkutan), kegiatan dalam industri hasil hutan meliputi industri
penggergajian, industri pulp dan kertas, industri wood working, industri
plywood, industri gondorukem, dan industri-industri yang bahan baku utamanya
dari hasil hutan seperti gula aren.
BAB III
PENUTUP
Kesimpulan
1. Komoditi atau komoditas adalah sesuatu
benda nyata yang relatif mudah diperdagangkan, dapat diserahkan secara fisik,
dapat disimpan untuk suatu jangka waktu tertentu dan dapat dipertukarkan dengan
produk lainnya.
2. Komoditi kehutanan adalah segala benda yang dapat
diperdagangkan yang bersumber dari hutan baik itu hasil hutan kayu maupun hasil
hutan bukan kayu.
3. Kreatif adalah memiliki daya cipta; memiliki kemampuan untuk mencipta.
4. Bentuk produk kreatif dan komoditi
kehutanan yaitu produk mebel, kosmetik, makanan dan obat-obatan serta
aksesoris.
5. Rotan merupakan salah satu komoditi
kehutanan berupa hasil hutan bukan kayu yang dapat diolah menjadi produk mebel,
tikar dan aksesoris.
Saran
Sebaikanya untuk praktikum selanjutnya praktikan dapat lebih teliti dalam perhitungan agar data yang diperoleh lebih akurat dan ilmu yang didapat menjadi lebih bermanfaat.
DAFTAR PUSTAKA
Andriana,
R. (2011). Analisis Peran Komoditi Tanaman Bahan Makanan Dalam Pembangunan
Ekonomi Kabupaten Sleman (Pendekatan Tipologi Klassen).
Wahyudi.
2013. Buku Pegangan Hasil Hutan Bukan kayu. Yogyakarta: Pohon Cahaya
Dirawan
A, Suranto, Sunarto. Analisis Komoditas Hasil Hutan Bukan Kayu Unggulan Di
Kawasan Hutan Kemasyarakatan Kabupaten Lombok Tengah. Jurnal Hutan Tropis, (6)3:
277-286.
Efriyani. 2017. Desain Kursi
Serbaguna di Rumah Susun dengan Serbuk Kayu. Repository IPB.
Saha,
D. 2012. Forest Policy and Economics Utilization of Non-Timber Forest Products
in Humid Tropics: Implications for Management and Livelihood. Forest Policy and
Economics, 2(14): 28–40.
Sutarman, I. 2005. Pemanfaatan Limbah Industri Pengolahan
Kayu di Kota Denpasar (Studi Kasus pada CV Aditya). Jurnal PASTI
Volume 10 (1) : 15 – 22.
Reza
M, Fardiah QUN. 2020. Kajian Komoditas Unggulan Kehutanan dalam Mendukung Industri
Kreatif Batik Kayu Kabupaten Gunungkidul. Jurnal Perencanaan Pembangunan
Wilayah dan Perdesaan, 4(3): 186-194.

Komentar
Posting Komentar